KHUTBAH JUMAT: HAKIKAT DIRI DARI TANAH DAN MANI HINA JANGAN UJUB KARENA KEAHLIAN
KHUTBAH JUMAT: HAKIKAT DIRI DARI TANAH DAN MANI HINA JANGAN UJUB KARENA KEAHLIAN
Khutbah Pertama
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan sebenar benar takwa, yaitu menjalankan perintah Nya dan menjauhi segala larangan Nya.
Pada hari yang mulia ini, mari kita bersihkan hati kita dari satu penyakit batin yang sangat merusak, yaitu ujub, rasa kagum, bangga, dan takjub terhadap diri sendiri. Merasa bahwa kehebatan, kecerdasan, jabatan, atau keahlian yang kita miliki adalah murni karena kehebatan pribadi kita, lalu melupakan peran Allah Swt.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memberikan peringatan keras mengenai bahaya sifat ini dalam sebuah hadits:
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
Ada tiga perkara yang membinasakan manusia: pertama sifat kikir yang dituruti, kedua hawa nafsu yang ditaati, dan ketiga ujubnya rasa bangga seseorang terhadap dirinya sendiri.
Al-Qur'an menggambarkan dua contoh kontras dalam menghadapi keahlian dan kenikmatan duniawi.
Pertama, keteladanan Nabi Sulaiman alaihis salam.
Ketika beliau diperlihatkan mukjizat pemindahan singgasana Ratu Balqis yang amat megah dalam sekejap mata, bahkan sebelum mata berkedip, beliau tidak menjadi sombong. Beliau adalah raja diraja yang menguasai manusia, jin, angin, dan hewan. Namun, ketika melihat kehebatan itu ada di depannya, beliau menunduk dan berkata dalam Surat An-Naml ayat 40:
Ketika beliau diperlihatkan mukjizat pemindahan singgasana Ratu Balqis yang amat megah dalam sekejap mata, bahkan sebelum mata berkedip, beliau tidak menjadi sombong. Beliau adalah raja diraja yang menguasai manusia, jin, angin, dan hewan. Namun, ketika melihat kehebatan itu ada di depannya, beliau menunduk dan berkata dalam Surat An-Naml ayat 40:
قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ لِيَبْلُوَنِيْٓ اَءَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ
Ia berkata: Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari akan nikmat Nya.
Beliau sadar, semua itu murni pertolongan Allah.
Kedua, kebinasaan Qarun akibat sifat ujub.
Qarun adalah manusia yang Allah karuniakan ilmu dan kekayaan luar biasa. Namun, ketika diingatkan untuk tidak sombong, dia dengan angkuh menjawab dalam Surat Al-Qashas ayat 78:
Qarun adalah manusia yang Allah karuniakan ilmu dan kekayaan luar biasa. Namun, ketika diingatkan untuk tidak sombong, dia dengan angkuh menjawab dalam Surat Al-Qashas ayat 78:
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي
Qarun berkata: Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.
Qarun merasa kesuksesannya adalah karena keahlian dagangnya, karena kecerdasannya sendiri. Dia melupakan Allah sang pemberi nikmat. Akibat keangkuhan rasa ujub ini, Allah memberikan azab yang sangat mengerikan. Allah benamkan Qarun hidup hidup ke dalam perut bumi, beserta seluruh harta kekayaan yang dia bangga banggakan. Tidak ada satu kekuatan pun yang mampu menolongnya dari kehancuran tersebut.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Dua kisah ini adalah cermin besar bagi kita semua, terutama bagi mereka yang dianugerahi keahlian dan profesi khusus di tengah masyarakat.
Mari kita renungkan saat seorang dokter ahli sedang mengoperasi pasien di ruang bedah. Dia menempuh pendidikan bertahun tahun dan menguasai ilmu medis yang rumit untuk memotong saraf atau menjahit organ tubuh yang rapuh. Ketika operasi besar itu berhasil dengan lancar dan nyawa pasien terselamatkan, keahlian tersebut sangat rawan menimbulkan sifat ujub. Begitu pula bagi seorang guru yang cerdas mengajar, seorang pengusaha yang mahir mengelola bisnis besar, seorang arsitek yang pandai merancang bangunan megah, atau seorang ulama yang ahli dalam ilmu agama.
Ketika sebuah keberhasilan besar dicapai dalam profesi kita, ada dua pilihan sikap di hadapan kita:
Apakah kita akan meniru Qarun yang ujub lalu merasa: Ini sukses karena kehebatan tangan saya, karena diagnosis cerdas saya, atau karena keahlian mutlak saya. Ataukah kita akan meniru Nabi Sulaiman yang menunduk dan berkata: Ini semata mata karena karunia Allah yang menitipkan keberhasilan ini melalui perantara keahlian saya.
Sadarilah, wahai diri kita semua, siapakah sesungguhnya kita ini? Sebelum kita menjadi manusia dewasa yang sombong dengan gelar, profesi, dan keahlian, kita semua diciptakan dari setetes air mani yang hina, air yang keluar dari tempat yang kotor. Allah Swt. berfirman dalam Surat As-Sajdah ayat 7 sampai 8:
اَلَّذِيْٓ اَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهٗ وَبَدَاَ خَلْقَ الْاِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍۚ ٧ ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهٗ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ مَّاۤءٍ مَّهِيْنٍۚ ٨
Artinya: Ayat 7: "(Zat) yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah."Ayat 8: "Kemudian, Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).
Kita berawal dari air mani yang hina, dibentuk di dalam rahim menjadi segumpal darah dan daging. Fisik kita ditopang oleh makanan yang tumbuh dari tanah. Saat hidup, kita berjalan di atas tanah. Dan pada akhirnya, tubuh yang kita banggakan ini akan kembali masuk ke dalam tanah, membusuk, hancur, dan menjadi santapan cacing tanah.
Lantas, pantaskah seonggok tanah yang tercipta dari air mani yang hina ini merasa kagum pada dirinya sendiri?
Seorang profesional bisa bekerja dengan cerdas karena Allah yang mengizinkan otaknya berpikir. Tangan seorang dokter bisa membedah dengan stabil dan terampil karena Allah yang menahan otot dan sarafnya agar tidak gemetar. Jika Allah mencabut satu saja nikmat Nya, misalnya Allah buat tangan kita gemetar atau ingatan kita mendadak hilang, maka seketika itu juga seluruh keahlian yang kita banggakan runtuh tak berbekas. Kita adalah makhluk yang fakir, lemah, dan selamanya butuh kepada Allah.
Oleh karena itu, mari kita buang jauh sifat ujub. Jangan pernah kagum pada diri sendiri. Ingatlah nasib tragis Qarun yang dibenamkan ke dalam bumi, ingatlah asal urusan penciptaan kita yang hanya dari tanah dan air mani yang hina, dan teladanilah kerendahan hati Nabi Sulaiman alaihis salam.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Sebagai kesimpulan, marilah kita camkan baik baik: kita hanyalah seonggok tanah yang berasal dari air mani yang hina. Semua kelebihan, kepintaran, harta, dan keahlian kita hanyalah titipan sementara. Jangan biarkan penyakit ujub menghancurkan kita sebagaimana ia telah membinasakan Qarun. Kita selamanya akan selalu butuh kepada Allah Swt. di setiap embusan napas kita.
Marilah kita berdoa kepada Allah dengan penuh kekhusyukan.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ وَالْكِبْرِ وَالْحَسَدِ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُ.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ وَعَلَى طَاعَتِكَ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.
اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَخُذْ بِأَيْدِيهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى.
اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ بَلْدَتَنَا هَذِهِ بَلْدَةً طَيِّبَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا ببَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Dedi Saputra - Ruqyah QHI Klaten
Tips membaca tulisan di website:
1.klik tautan, (jika buka dari Facebook, pilih tanda titik 3 pojok kanan atas lalu pilih buka di browser eksternal dulu)
2.pilih tanda titik 3 pojok kanan atas,
3.pilih Tampilkan Mode Baca,
4.sentuh layar dengan 2 jari untuk sesuaikan ukuran font.
Kini membaca tulisan lebih mudah dan nyaman di mata
Komentar
Posting Komentar