KHUTBAH JUM'AT: BERSYUKUR SEBAGAI KUNCI MERAIH KETENANGAN DAN KEDAMAIAN HIDUP
KHUTBAH JUM'AT: BERSYUKUR SEBAGAI KUNCI MERAIH KETENANGAN DAN KEDAMAIAN HIDUP
KHUTBAH PERTAMA
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَأَفَاضَ عَلَيْنَا مِنْ نِعَمِهِ الْعِظَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْعَلَّامُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى دَارِ السَّلَامِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَعْلَامِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا دَامَ النُّوْرُ وَالظَّلَامُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
Jamaah Shalat Jum’at yang Dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita. Takwa bukan sekadar lisan, melainkan komitmen total menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya di mana pun kita berada.
Hari ini, kita menyaksikan fenomena global yang melanda mental modern, yaitu krisis kedamaian jiwa. Manusia modern terjebak dalam pusaran kompetisi dunia yang tiada henti. Kita berlomba menimbun harta, mengejar pangkat, dan memamerkan status sosial. Namun, mengapa semakin banyak harta terkumpul, kecemasan justru semakin menganga? Mengapa fasilitas hidup semakin mewah, tetapi angka stres dan depresi justru melonjak tajam?
Jawabannya tegas, karena kita kehilangan orientasi syukur dan terjebak dalam penyakit kufur nikmat. Kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita miliki, hingga kita buta terhadap jutaan nikmat yang telah mendekam di dalam diri kita.
Ketidakmampuan untuk bersyukur ini bukan hanya merusak pahala akhirat kita, melainkan menjadi pemicu utama datangnya berbagai penyakit fisik modern akibat stres berkepanjangan, mulai dari kecemasan akut, asam lambung, hingga gangguan tidur. Syukur adalah bentuk nyata dari penyembuhan mandiri terbaik yang diajarkan oleh Islam.
Rasulullah SAW memberikan obat penawar yang sangat tegas bagi penyakit mental ini yang artinya, kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sejati adalah kekayaan hati, yaitu jika jiwa selalu merasa cukup. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
Oleh karena itu, agar kita tidak tersesat dalam ketamakan dunia dan bisa meraih ketenangan hakiki, Allah SWT telah memberikan maklumat dan janji yang sangat pasti di dalam Al-Qur'an. Janji ini menjadi dasar hukum utama mengapa bersyukur adalah sebuah kewajiban mutlak bagi setiap hamba.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْكِتَابِ الْعَزِيْزِ: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ.
Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat. Surat Ibrahim ayat 7.
Jamaah yang Dimuliakan Allah,
Namun perlu kita luruskan kesalahpahaman yang sering terjadi. Bersyukur dan merasa cukup atau qana'ah bukan berarti umat Islam harus malas, pasrah dalam kemiskinan, atau berhenti berinovasi. Sebaliknya, syukur adalah bahan bakar mental yang sangat kuat agar kita bisa terus produktif, mandiri, dan bekerja keras tanpa harus diperbudak oleh rasa iri dengki terhadap pencapaian orang lain.
Melalui mimbar yang mulia ini, khatib ingin menegaskan tiga pilar utama syukur yang harus tertanam kuat di dalam jiwa kita agar kedamaian itu hadir secara nyata.
Penegasan Pertama adalah Syukur dengan Hati atau Tasydidul Qalbi. Kita harus membersihkan kesombongan dari dada kita. Jangan pernah merasa bahwa kecerdasan, kesehatan, atau kekayaan yang kita raih hari ini adalah murni hasil payah kita sendiri. Akui dengan jujur dan tunduk bahwa semua itu adalah kemurahan murni dari Allah SWT. Tanpa pertolongan-Nya, kita bukanlah apa-apa.
Penegasan Kedua adalah Syukur dengan Lisan atau Tahdidul Lisan. Hentikan kebiasaan mengeluh. Lisan yang terus-menerus mengeluh adalah cerminan dari hati yang tidak rida terhadap takdir Allah. Hati yang dipenuhi keluhan dan kekufuran akan menjadi pintu masuk utama bagi bisikan setan untuk mengacaukan pikiran kita. Sebaliknya, hati yang terus berzikir dan bersyukur adalah benteng gaib yang paling kokoh dari segala bentuk kegelisahan jiwa. Basahi lidah kita dengan kalimat Alhamdulillah. Penegasan syukur lewat lisan akan memancarkan energi positif yang menenangkan syaraf dan menjernihkan pikiran.
Penegasan Ketiga adalah Syukur dengan Tindakan atau Tathbiqul Jawarih. Ini adalah pembuktian paling nyata. Jika Allah memberi Anda kesehatan, gunakan untuk melangkah ke masjid. Jika Allah memberi Anda kelapangan harta, gunakan untuk menyantuni anak yatim dan membangun umat. Membiarkan nikmat Allah menganggur tanpa bernilai ibadah, atau bahkan menggunakannya untuk maksiat, adalah bentuk kelancangan tertinggi kepada Sang Pencipta.
Ingatlah nasihat emas baginda Nabi SAW yang artinya, lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dalam urusan dunia, dan jangan melihat orang yang di atasmu. Hal itu akan menjaga kalian agar tidak meremehkan nikmat Allah. Hadis riwayat Muslim.
Kedamaian hidup tidak akan pernah dibeli dengan nominal rupiah. Kedamaian hidup hanya akan datang ketika kita meletakkan dunia di tangan, meletakkan syukur di hati, and bersujud pasrah kepada Allah SWT.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ نَبِيُّ الرَّحْمَةِ وَالْهُدَى.
اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى حَقَّ التَّقْوَى. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.
اللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا.
اللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي غَزَّةَ خُصُوْصًا. اللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ عَوْنًا وَنَصِيْرًا. اللّٰهُمَّ ثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَتَقَبَّلْ شُهَدَاءَهُمْ وَارْحَمْ ضُعَفَاءَهُمْ وَأَفْرِغِ الصَّبْرَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Dedi Saputra, CAHTM - Ruqyah QHI Klaten
Komentar
Posting Komentar