Khutbah Jum'at: Harta Kita: Menjadi Penyokong Kebaikan atau Penyokong Maksiat?


Harta Kita: Menjadi Penyokong Kebaikan atau Penyokong Maksiat?

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَشَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Mengawali khutbah yang mulia ini, mari kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur sedalam-dalamnya ke hadirat Allah SWT. Dialah Tuhan yang terus mengalirkan nikmat-Nya kepada kita tanpa henti. Mulai dari nikmat bernapas, nikmat kesehatan, nikmat harta, hingga nikmat terbesar yaitu iman dan Islam. Sungguh, jika kita mencoba menghitung nikmat Allah, niscaya kita tidak akan pernah mampu menghitungnya. Bentuk syukur terbaik kita siang ini adalah dengan meringankan langkah kaki memenuhi panggilan-Nya dalam ibadah salat Jum'at.
Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita terus berupaya meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah SWT. Caranya adalah dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segenap larangan-Nya. Sadarilah, hidup di dunia ini hanyalah sebuah perjalanan singkat, dan kita semua pasti akan kembali pulang menghadap Sang Pencipta. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 197:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
“Berbekallah kamu, maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”
Takwa inilah satu-satunya pakaian dan pelindung yang akan menyelamatkan kita di padang mahsyar kelak.
Jamaah yang berbahagia,
Setiap detik kehidupan manusia membutuhkan biaya. Setiap langkah kita melibatkan harta. Namun, ketahuilah bahwa harta dalam pandangan Islam hanyalah alat dan titipan. Harta tidak memiliki nilai moral mandiri sampai pemiliknya menggunakannya. Pada hakikatnya, di dunia ini manusia hanya memiliki dua pilihan: menjadi penyokong kebaikan atau menjadi penyokong maksiat.
Pilihan pertama adalah menjadi penyokong kebaikan. Ini adalah kedudukan mulia di mana harta mengalir untuk mendukung tegaknya agama Allah, membantu sesama, dan mendanai amal salih. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا
"Barangsiapa yang mempersiapkan (mendanai) orang yang berperang di jalan Allah, maka ia sungguh telah ikut berperang." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini mengajarkan konsep investasi pahala. Di zaman sekarang, menjadi penyokong kebaikan bisa diwujudkan dengan mendirikan tempat dan memfasilitasi kajian-kajian ilmu. Ketika seseorang menggunakan hartanya untuk mendirikan tempat, menyewa ruangan, menyediakan pengeras suara, atau bahkan menyediakan hidangan dan jamuan makan bagi para penuntut ilmu yang hadir, ia sedang membangun istana di surga.
Tindakan menyediakan hidangan bagi orang lain dinilai oleh Rasulullah SAW sebagai salah satu fondasi kebaikan tertinggi dalam Islam. Ketika beliau ditanya mengenai amalan Islam apa yang terbaik, beliau menjawab dalam hadis sahih:
تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
"Kamu memberi makan, dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal." (HR. Bukhari dan Muslim).
Setiap suapan makanan yang menguatkan fisik penuntut ilmu untuk belajar, pahalanya mengalir utuh kepada sang pendana kajian.
Lebih dahsyat lagi adalah ketika harta digunakan untuk membiayai pendidikan, khususnya para santri yang sedang mendalami agama Allah (tafaqquh fiddin). Bayangkan, seorang santri yang dibiayai uang jajan, kitab, atau uang semesternya, kelak ia pulang menjadi ustadz, guru ngaji, atau kiai. Setiap huruf Al-Qur'an yang ia ajarkan, setiap sujud dari santri-santrinya kelak, pahalanya akan terus mengalir ke rekening akhirat orang yang membiayainya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Kita mungkin tidak bisa berceramah, tetapi harta yang dikeluarkan bisa melahirkan ribuan juru dakwah. Inilah investasi akhirat yang tidak akan pernah bangkrut.
Namun, jika kondisi ekonomi tidak memungkinkan seseorang untuk menjadi penyokong kebaikan dengan hartanya, jangan pernah berkecil hati. Berupayalah untuk tetap ikut berperan dalam dakwah dan kebaikan tersebut meski hanya dengan modal tenaga dan perjuangan. Menjadi panitia kajian yang melelahkan fisiknya, menyapu lantai masjid, merapikan sandal para penuntut ilmu, atau meluangkan waktu untuk menyebarkan informasi kebaikan juga merupakan saham pahala yang tidak kalah mulia di sisi Allah SWT.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Sebaliknya, pilihan kedua yang sangat berbahaya adalah menjadi penyokong maksiat. Ini terjadi ketika seseorang membiarkan uang atau asetnya menjadi bahan bakar terselenggaranya perbuatan dosa. Menjadi pendana maksiat tidak harus dengan mendirikan tempat perjudian secara terang-terangan.
Seringkali, keterlibatan sebagai penyokong maksiat ini terjadi melalui kelalaian dan kurangnya kewaspadaan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, ketika seseorang memfasilitasi sebuah ruangan, rumah kosong, atau kendaraan, lalu membiarkan tempat tersebut untuk digunakan dalam kemaksiatan dengan berbagai macamnya, maka secara tidak langsung ia telah mendanai kemaksiatan.
Begitu pula ketika seseorang memberikan sumbangan dana atas nama "solidaritas" atau "dana hiburan" untuk acara-acara komunitas yang di dalamnya ternyata menampilkan acara berbau kemaksiatan seperti judi terselubung, pesta pora yang melanggar syariat, dan minum minuman keras. Sadar atau tidak, uang yang diberikan telah menjadi pelumas berputarnya roda kemaksiatan tersebut.
Dalam perkara ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan peringatan yang sangat keras bahwa hukuman dan laknat tidak hanya dijatuhkan kepada pelaku utama, melainkan juga kepada siapa pun yang ikut andil membantu berjalannya kemaksiatan tersebut. Beliau bersabda:
لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ، وَشَارِبَهَا، وَسَاقِيَهَا، وَبَائِعَهَا، وَمُشْتَرِيَهَا، وَعَاصِرَهَا، وَمُعْتَصِرَهَا، وَحَامِلَهَا، وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ
"Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya, dan orang yang meminta diantarkan." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Lihatlah bagaimana orang yang sekadar menuangkan minuman keras ke dalam gelas ikut dilaknat bersama orang yang meminumnya. Hadis ini menjadi bukti nyata bahwa barangsiapa yang menjadi penyokong, penyedia fasilitas, atau donatur yang melancarkan sebuah kemaksiatan, maka ia bersekutu dalam dosa jariyah tersebut.
Allah SWT secara tegas melarang hal ini dalam Al-Qur'an Surah Al-Ma'idah ayat 2:
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya."
Ingatlah, setiap rupiah yang dikeluarkan untuk mendanai atau memfasilitasi kemaksiatan akan dicatat sebagai saham dosa jariyah. Selama maksiat itu berjalan karena bantuan modal atau fasilitas tersebut, selama itu pula dosa terus mengalir ke rekening akhirat, bahkan setelah manusia dikubur di dalam tanah.
Maka, sebelum dompet terbuka, sebelum aset dipinjamkan, setiap Muslim harus bertanya pada diri sendiri: "Apakah uang, fasilitas, atau tenaga ini akan menjadi saksi pembela saya di hadapan Allah, atau justru menjadi bahan bakar yang menyeret saya ke dalam neraka?"
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ طَائِعِينَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Mengakhiri rangkaian ibadah ini, khatib kembali berwasiat kepada diri sendiri dan jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Mari kita jaga rezeki dan aset yang Allah titipkan agar tidak menjadi jalan kemaksiatan. Pastikan setiap rupiah yang kita keluarkan menjelma menjadi sokongan kebaikan, fasilitas dakwah, nafkah yang halal, serta sedekah yang meringankan beban sesama. Jauhkan harta kita dari memfasilitasi dosa agar ia menjadi penolong, bukan pembawa petaka di hari pembalasan kelak.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِوَالِدِينَا وَوَالِدِي الْمُسْلِمِينَ، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا، اللَّهُمَّ أَعِزَّهُمْ بِالطَّاعَةِ وَلَا تُخْزِهِمْ بِالمعْصِيَةِ.
اللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا.
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ.
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَمْوَالَنَا عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا لِمَعْصِيَتِكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dedi Saputra, CAHTM - Ruqyah QHI Klaten


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kunjungan dari PUSKESMAS NGAWEN - KLATEN di Rumah Sehat Holistik Asy Syifa Klaten (Bekam Holistik Klaten)

TERAPI PROMIL (Program Kehamilan) Rumah Sehat Holistik Asy Syifa Klaten

Tips Ruqyah Mandiri