KHUTBAH:Istigfar: Solusi Langit untuk Krisis Bumi, Keturunan, dan Keteguhan Tauhid

KHUTBAH JUM'AT:
Istigfar: Solusi Langit untuk Krisis Bumi, Keturunan, dan Keteguhan Tauhid

KHUTBAH PERTAMA

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الِاسْتِغْفَارَ مِفْتَاحًا لِكُلِّ هَمٍّ وَفَرَجًا، وَسَبَبًا لِنُزُولِ الْبَرَكَاتِ وَالْأَرْزَاقِ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada segenap jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, karena takwa adalah satu-satunya bekal terbaik menuju kehidupan akhirat yang kekal.
Jamaah Shalat Jum’at yang Dirahmati Allah,
Setiap manusia di muka bumi ini pasti menginginkan kelimpahan rezeki. Kita mendambakan harta yang berkah, kecukupan pangan, serta keturunan yang banyak, saleh, dan salehah sebagai penerus perjuangan kita. Namun, acapkali ketika krisis hidup melanda—ketika ekonomi seret, pangan mahal, atau buah hati yang dinanti-nanti tak kunjung hadir—kita hanya sibuk mencari solusi-solusi duniawi dan melupakan sebuah kunci rahasia yang telah diketuk oleh para nabi terdahulu. Kunci rahasia itu bernama: Istigfar dan Taubat.
Mari kita buka kembali lembaran sejarah peradaban manusia melalui kisah Nabi Nuh ’alaihissalam. Beliau adalah rasul pertama yang diutus ke muka bumi untuk menghadapi sebuah kaum yang sangat keras kepala.
Perlu kita ketahui bersama, kaum Nabi Nuh adalah cikal bakal pelopor kesyirikan pertama di dunia. Sebelum masa mereka, selama sepuluh generasi sejak Nabi Adam hingga Nabi Idris, seluruh manusia menyembah Allah yang Maha Esa. Namun, kaum Nabi Nuh merusak tauhid yang murni ini. Sungguh tragis, kesyirikan mereka lahir bukan karena mereka benci agama, melainkan karena rasa cinta dan pengkultusan yang berlebihan (ghuluw) kepada orang-orang saleh yang telah wafat.
Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma mengisahkan dalam Shahih Bukhari, bahwa dahulu ada lima orang saleh yang sangat dicintai masyarakat, nama mereka adalah: Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Ketika kelima orang saleh ini wafat, masyarakat berduka cita yang sangat mendalam. Di sinilah setan masuk membawa tipu daya tahap pertama. Setan membisikkan: "Buatlah patung-patung mereka di tempat kalian biasa berkumpul untuk mengenang kesalehan mereka, agar kalian bersemangat beribadah." Pada generasi pertama, patung itu belum disembah. Namun, ketika generasi pertama wafat, ilmu agama lenyap, setan kembali membisikkan tipu daya tahap kedua kepada anak-cucu mereka: "Dahulu orang tua kalian menyembah patung ini, dan dari patung inilah hujan diturunkan." Akhirnya, runtuhlah tauhid dan mulailah manusia menyembah berhala.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Karena kesombongan dan kesyirikan yang melampaui batas ini, Allah SWT menjatuhkan sebuah hukuman duniawi yang sangat mengerikan sebagai peringatan awal. Allah menahan berkah dari langit dan bumi. Allah mengunci rahim-rahim para wanita mereka.
Para ulama tafsir, seperti Imam Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa kaum Nabi Nuh dikutuk mandul massal selama 40 tahun penuh. Bayangkan, selama empat dekade, tidak ada satu pun tangisan bayi yang lahir di kota mereka. Suasana peradaban menjadi sunyi, mencekam, dan dihantui kepunahan generasi. Bersamaan dengan itu, kekeringan ekstrem melanda. Sungai-sungai mengering, tanaman pangan mati total, dan hewan ternak binasa kelaparan. Kemandulan massal ini murni merupakan azab langsung dari Allah SWT, bukan sekadar masalah kurang pangan atau gangguan medis biasa.
Di tengah situasi yang putus asa itulah, Nabi Nuh datang membawa mukjizat spiritual yang luar biasa. Beliau tidak menawarkan strategi ekonomi yang rumit, melainkan menawarkan "Diplomasi Istigfar". Allah mengabadikan perkataan Nabi Nuh dalam Al-Qur'an, Surat Nuh ayat 10 sampai 12:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
"Maka aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu'." (QS. Nuh: 10-12)
Nabi Nuh menegaskan, jika mereka mau beristigfar, membersihkan diri dari dosa syirik, maka penyumbat aliran rezeki akan terangkat. Allah berjanji dengan kata wayumdidkum—Dia akan menyokong mereka terus-menerus dengan dua nikmat dunia terbesar: harta (amwaal) dan anak keturunan (baniin), serta mengembalikan kesuburan rahim wanita mereka.
Namun apa yang terjadi, jamaah sekalian? Kaum yang hatinya telah membatu itu menolak mentah-mentah solusi istigfar tersebut. Mereka justru saling menghasut untuk tetap menyembah Wadd, Suwa', dan berhala lainnya. Akibat menolak istigfar sebagai pembuka rahmat, Allah akhirnya mengirimkan azab penutup: sebuah bencana alam paling dahsyat dan mengerikan yang pernah tercatat dalam sejarah peradaban muka bumi.
Air yang awalnya mereka dambakan untuk mengakhiri kekeringan, tidak turun sebagai berkah pertanian. Allah memerintahkan langit untuk menumpahkan airnya tanpa henti seperti air terjun raksasa, dan Allah memerintahkan seluruh mata air di perut bumi memancar deras secara serentak. Bumi tenggelam total. Gelombang air bergulung-gulung setinggi gunung, menyapu, menghancurkan, dan menenggelamkan peradaban manusia yang sombong tanpa sisa.
Di tengah gulungan bencana paling dahsyat sejagat raya tersebut, hanya ada satu tempat keselamatan di dunia: yaitu Bahtera atau Kapal Raksasa Nabi Nuh.
Mari kita merenung, setelah berdakwah selama 950 tahun—hampir satu milenium lamanya—berapakah jumlah manusia yang menyambut seruan beliau dan ikut naik ke atas kapal? Para ulama tafsir mencatat sebuah fakta yang menggetarkan hati: pengikut Nabi Nuh yang selamat di dalam kapal hanya berkisar antara 80 orang saja. Mayoritas dari mereka bukanlah orang-orang terpandang, melainkan kaum miskin, budak, dan pekerja kasar yang selama ini dihina oleh elit kaumnya.
Di dalam kapal yang terombang-ambing di tengah badai kiamat sughra itu, berkumpullah Nabi Nuh beserta para pengikutnya yang setia (sekitar 80 orang), berdampingan dengan pasangan hewan-hewan dari berbagai jenis (jantan dan betina) yang ikut diselamatkan agar tidak punah dari muka bumi. Dari atas kapal inilah, babak baru kemanusiaan dimulai. Seluruh manusia yang menolak istigfar—termasuk jutaan manusia yang mandul dan membangkang saat itu—tewas tenggelam menjadi bangkai.
Jamaah Shalat Jum’at yang Dirahmati Allah,
Di akhir khutbah pertama ini, mari kita petik sebuah pelajaran akidah yang teramat sangat penting tentang bab dakwah dan hidayah. Seringkali kita sebagai kepala keluarga, sebagai orang tua, merasa putus asa ketika mendapati anak atau istri kita sulit diajak taat kepada Allah. Maka tengoklah rumah tangga Nabi Nuh ’alaihissalam.
Beliau adalah seorang rasul besar yang berdakwah selama 950 tahun, namun di dalam rumahnya sendiri, beliau harus menerima kenyataan pahit bahwa dua orang yang paling dicintainya menolak hidayah:
  1. Istri beliau, bernama Walihah. Di depan Nabi Nuh ia berpura-pura tunduk, namun di belakang, ia mengkhianati akidah suaminya dengan membisikkan kepada kaumnya bahwa Nabi Nuh adalah orang gila. Hubungan pernikahan dengan seorang nabi pilihan tidak mampu menyelamatkannya dari seretan api neraka (QS. At-Tahrim: 10).
  2. Anak kandung beliau, bernama Kan’an. Detik-detik menjelang air bah menenggelamkan bumi, Nabi Nuh berteriak dengan hancur hati dari atas kapal: "Wahai anakku, naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir!" Namun dengan sombongnya Kan'an menjawab: "Aku akan berlindung ke puncak gunung yang bisa menyelamatkanku dari air!" (QS. Hud: 42-43). Kan'an lebih percaya pada logikanya daripada wahyu ayahnya. Ia mati tenggelam dalam kekafiran di hadapan mata kepala ayahnya sendiri.
Kisah memilukan ini menegaskan sekokoh-kokohnya kepada kita: Tugas kita hanyalah menyampaikan (balagh), sedangkan hidayah mutlak milik Allah SWT. Nabi Nuh tidak gagal menjadi seorang ayah, beliau tidak gagal menjadi seorang suami. Beliau telah menunaikan tugasnya dengan sempurna. Iman tidak bisa diwariskan melalui garis darah atau nasab kekeluargaan.
Oleh karena itu, jangan pernah bosan mendidik keluarga kita, jangan pernah berhenti mengajak dalam kebaikan, dan yang paling utama, jangan pernah berhenti mengetuk pintu langit. Mintalah hidayah untuk anak dan istri kita kepada Allah, sang pemilik bolak-balik hati manusia. Dan mari, bersihkan sisa-sisa hari kita dengan memperbanyak istigfar, agar segala sumbatan rezeki, keturunan, dan keberkahan hidup diangkat oleh Allah SWT.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ تَعَالَى، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُر_ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
Ya Allah, zat yang membolak-balikkan hati, di hari Jum'at yang penuh berkah ini, kami memohon kepadamu, tanamkanlah iman dan tauhid yang murni di dalam dada kami, keluarga kami, anak-cucu kami, hingga hari kiamat kelak. Jauhkanlah kami dari bahaya kesyirikan, jauhkanlah kami dari sifat mengkultuskan manusia secara berlebihan yang dapat merusak akidah kami.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami. Bukakanlah pintu rezeki-Mu yang lapang melimpah melalui wasilah istigfar kami. Bagi saudara-saudara kami yang saat ini diuji dengan kesempitan ekonomi, angkatlah kesulitannya ya Allah. Bagi saudara-saudara kami yang telah lama mendambakan kehadiran buah hati namun rahimnya belum kunjung terisi, dengan keberkahan istigfar dan kuasa-Mu, anugerahkanlah kepada mereka keturunan yang banyak, yang saleh, salehah, dan menyejukkan pandangan mata.
Ya Allah, tuntunlah istri-istri kami, bimbinglah anak-anak kami. Jangan Engkau biarkan mereka terseret dalam arus kekufuran dan kemaksiatan seperti Kan'an dan Walihah. Lembutkanlah hati mereka untuk menerima kebenaran. Kami menyadari ya Allah, hidayah adalah milik-Mu, maka jangan Engkau luputkan keluarga kami dari hidayah-Mu.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ . وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ . وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . أَقِيمُوا الصَّلَاةَ!
والسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dedi Saputra, CAHTM - Ruqyah QHI Klaten 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kunjungan dari PUSKESMAS NGAWEN - KLATEN di Rumah Sehat Holistik Asy Syifa Klaten (Bekam Holistik Klaten)

TERAPI PROMIL (Program Kehamilan) Rumah Sehat Holistik Asy Syifa Klaten

Tips Ruqyah Mandiri