Khutbah Jum'at: Menepis Mitos Bulan Suro: Antara Ketakutan, Ritual, dan Kemurnian Akidah Islam



Menepis Mitos Bulan Suro: Antara Ketakutan, Ritual, dan Kemurnian Akidah Islam

Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۞ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Sidang Jum’at yang dirahmati Allah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, yakni menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk menjaga kesucian akidah kita dari noda-noda kesyirikan.

Setiap kali memasuki bulan Muharram, atau yang akrab dikenal sebagian masyarakat kita sebagai bulan Suro, atmosfer mistis kerap menyelimuti sebagian wilayah di tanah air.
Sebagian orang mendadak merasa takut untuk menggelar hajatan pernikahan, membangun rumah, berpindah tempat tinggal, atau melakukan perjalanan jauh karena menganggap bulan ini sebagai bulan sial yang penuh malapetaka.
Di sisi lain, sebagian masyarakat justru merespons bulan ini dengan melakukan berbagai ritual khusus yang diyakini sebagai ritual tolak bala atau pembersih diri.

Ketakutan akan bulan Suro ini telah melahirkan mitos turun-temurun yang mengakar kuat, bahwa bulan Muharram membawa energi negatif atau kesialan bagi siapa saja yang melanggar pantangannya.

Akibat dari mitos ini, banyak aktivitas ekonomi terhenti, pedagang sepi pembeli, and kegiatan sosial sengaja ditunda demi menghindari kesialan yang sebenarnya hanya ada dalam prasangka manusia.
Jamaah sekalian yang berbahagia, di tengah masyarakat kita, mitos-mitos ini mewujud dalam berbagai bentuk pantangan yang tidak masuk akal.
Contohnya adalah mitos larangan mengadakan pesta pernikahan di bulan Suro karena dipercaya rumah tangga yang dibangun akan dipenuhi malapetaka atau berujung perceraian.

Ada juga mitos larangan keluar rumah tepat pada malam satu Suro karena dianggap sebagai waktu keluarnya makhluk gaib yang bisa membawa kesialan atau petaka bagi siapa saja yang berpapasan dengannya.
Tidak hanya ketakutan, bulan ini juga sering diisi dengan berbagai ritual magis yang menyimpang dari syariat di berbagai tempat yang dikeramatkan.

Sidang Jum’at yang dirahmati Allah, contoh ritual yang sering kita saksikan adalah memandikan atau menjamas benda-benda pusaka seperti keris dan tombak yang dianggap memiliki kekuatan gaib pelindung.

Ada pula ritual kungkum atau berendam di malam hari, serta ritual mandi pembersihan diri yang dilakukan di berbagai sumber mata air, umbul, maupun sendang-sendang yang dianggap memiliki tuah mistis.

Masyarakat berduyun-duyun mendatangi tempat-tempat tersebut dengan keyakinan bahwa air dari umbul atau sendang keramat itu bisa melunturkan kesialan dan mendatangkan keberuntungan di awal tahun baru.

Fenomena ini juga terjadi di kawasan pesisir pantai dan wilayah pegunungan melalui ritual melarung atau menanam sesajen.

Kita sering melihat adanya ritual melarung kepala kerbau, tumpeng, atau hasil bumi ke laut selatan sebagai persembahan untuk penguasa pantai, ataupun mempersembahkan sesaji di kawah gunung-gunung yang dikeramatkan.

Banyak pelaku ritual berdalih bahwa semua ini hanyalah bentuk permohonan keselamatan, nguri-uri adat budaya, dan cara tolak bala agar wilayah mereka diselamatkan dari bencana selama bulan Suro.

Namun, jamaah sekalian yang dirahmati Allah, di sinilah letak keanehan dan ironi yang sangat besar di tengah-tengah masyarakat kita.

Sangat aneh rasanya ketika melihat manusia begitu takut kehilangan dunia, takut tertimpa sial, dan takut malapetaka akan menimpa hidup mereka jika tidak mengadakan ritual-ritual tersebut.
Mereka dirundung rasa takut ini dan takut itu terhadap hal-hal yang tidak nyata, namun di saat yang sama, mereka justru sama sekali tidak memiliki rasa takut kepada Allah Azza wa Jalla atas perbuatan syirik besar yang mereka lakukan.

Mereka takut kepada makhluk yang lemah, tetapi mereka menantang murka Zat Yang Maha Perkasa dengan mengotori kemurnian tauhid mereka melalui persembahan sesaji dan penghambaan kepada selain Allah.

Mengenai fenomena rasa takut yang salah tempat ini, Allah SWT telah mencelanya dalam Al-Qur'an surat Az-Zumar ayat 36:
وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِن دُونِهِ
"Dan mereka menakut-nakuti kamu dengan sesembahan-sesembahan yang selain Allah." (QS. Az-Zumar: 36)

Mereka justru ditakut-takuti oleh khurafat penunggu sendang, penguasa lautan, dan mitos bulan sial, hingga melupakan bahwa rasa takut (khauf) adalah ibadah agung yang hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.

Allah SWT dengan tegas memerintahkan kita dalam surat Ali 'Imran ayat 175:
فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
"Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran: 175)

Sidang Jum’at yang dirahmati Allah, dalam kacamata akidah Islam, meyakini suatu waktu, tempat, atau benda tertentu mendatangkan kesialan tanpa dasar dalil yang sah disebut dengan istilah thiyaroh atau tathayyur.
Sifat menganggap sial ini merupakan warisan kaum jahiliyah terdahulu yang dilarang keras dalam Islam karena merusak ketergantungan hati hanya kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
"Thiyaroh meyakini kesialan itu adalah syirik, thiyaroh itu adalah syirik." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Menganggap bulan Suro sebagai pembawa bencana secara tidak langsung sama dengan mencela waktu. Padahal, Allah-lah satu-satunya Zat yang menciptakan waktu, membolak-balikkan siang dan malam, serta mengatur segala takdir baik maupun buruk.

Ketika seseorang melakukan ritual-ritual magis tadi, perbuatannya bisa masuk kategori syirik kecil jika dia sekadar menganggap air umbul, sendang, atau sesajen tersebut sebagai perantara penolak bala, padahal Allah tidak pernah menjadikan benda atau tempat itu sebagai sebab keselamatan dalam agama.
Namun, perbuatan itu bisa berubah menjadi syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam jika muncul keyakinan di dalam hatinya bahwa penunggu gaib di sendang, penguasa gaib di pantai, atau kekuatan di gunung memiliki kuasa mandiri untuk melindungi manusia atau mendatangkan marabahaya.

Sidang Jum’at yang dirahmati Allah, alih-alih menjadi bulan yang menakutkan atau penuh kesialan, Islam justru menempatkan Muharram sebagai salah satu dari empat Asyhurul Hurum atau bulan-bulan haram dan suci yang sangat mulia dan dihormati.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan suci. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu." (QS. At-Taubah: 36)

Di bulan mulia ini, kita justru dilarang keras berbuat zalim, dilarang berbuat maksiat, dilarang mengotori diri dengan syirik, dan sangat dianjurkan untuk memperbanyak amalan saleh.
Salah satu amalan utama yang diajarkan oleh Nabi kita adalah memperbanyak ibadah puasa sunnah, khususnya puasa sunnah Asyura pada tanggal sepuluh Muharram yang dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu.

Takut berlebihan pada bulan Muharram atau Suro, serta melakukan ritual non-syariat demi menolak bala, adalah bentuk kekeliruan akidah yang nyata.
Seluruh hari dan bulan adalah makhluk ciptaan Allah yang bersifat netral. Nasib baik atau buruk ditentukan oleh takdir Allah dan perbuatan manusia itu sendiri, bukan oleh nama atau angka bulan.
Oleh karena itu, mari kita bersama-sama membentengi diri dan keluarga kita, bersihkan iman dari segala bentuk khurafat, dan penuhi bulan mulia ini dengan berbagai ibadah yang lurus sesuai tuntunan syariat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Sidang Jum'at yang dirahmati Allah, marilah kita senantiasa memelihara ketakwaan kita dan berkomitmen kuat untuk menjaga kemurnian tauhid kita.
Jangan lagi ada keraguan di dalam hati kita untuk tetap beraktivitas normal di bulan Muharram, baik itu untuk melangsungkan pernikahan, memulai usaha, maupun bepergian. Percayalah bahwa Allah senantiasa melindungi hamba-Nya yang bertauhid, berserah diri, dan takut hanya kepada-Nya.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا، اللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَقِهِم|ْ عَذَابَ النَّارِ
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ۞ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ۞ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Dedi Saputra - Ruqyah QHI Klaten


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kunjungan dari PUSKESMAS NGAWEN - KLATEN di Rumah Sehat Holistik Asy Syifa Klaten (Bekam Holistik Klaten)

TERAPI PROMIL (Program Kehamilan) Rumah Sehat Holistik Asy Syifa Klaten

Tips Ruqyah Mandiri