Menepis Mitos Bulan Suro: Antara Ketakutan, Ritual, dan Kemurnian Akidah Islam
Menepis Mitos Bulan Suro: Antara Ketakutan, Ritual, dan Kemurnian Akidah Islam
Setiap kali memasuki bulan Muharram, atau yang akrab dikenal sebagian masyarakat sebagai bulan Suro, atmosfer mistis kerap menyelimuti sebagian wilayah. Sebagian orang merasa takut untuk menggelar hajatan, berpindah rumah, atau melakukan perjalanan jauh karena menganggap bulan ini sebagai bulan sial yang penuh malapetaka. Di sisi lain, sebagian masyarakat justru merayakannya dengan ritual-ritual khusus untuk tolak bala.
Bagaimana sebenarnya pandangan Islam yang lurus mengenai ketakutan dan fenomena ritual di bulan mulia ini?
Ketakutan Masyarakat: Mitos "Bulan Sial" yang Keliru
Ketakutan akan bulan Suro melahirkan mitos turun-temurun bahwa bulan Muharram membawa energi negatif atau kesialan bagi yang melanggar pantangannya. Akibatnya, banyak aktivitas ekonomi dan sosial yang sengaja ditunda demi menghindari kesialan tersebut.
Dalam kacamata akidah Islam, meyakini suatu waktu, tempat, atau benda tertentu mendatangkan kesialan tanpa dasar dalil yang sah disebut dengan istilah thiyaroh atau tathayyur. Sifat ini merupakan warisan kaum jahiliyah terdahulu yang dilarang keras dalam Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Thiyaroh (meyakini kesialan) itu adalah syirik." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Menganggap bulan Suro sebagai pembawa bencana secara tidak langsung sama dengan mencela waktu. Padahal, Allah-lah satu-satunya Zat yang membolak-balikkan waktu dan mengatur segala takdir baik maupun buruk.
Fenomena Ritual yang Menjebak pada Kesyirikan
Selain ketakutan, bulan ini juga sering diisi dengan berbagai ritual magis, mulai dari memandikan benda pusaka, kirab benda keramat, hingga melarung sesajen ke laut.
Banyak pelaku ritual berdalih bahwa ini adalah bentuk permohonan keselamatan dan tolak bala agar terhindar dari marabahaya. Namun, jika ditinjau dari sisi tauhid, ritual semacam ini sangat rawan menjerumuskan seseorang ke dalam dosa syirik:
- Syirik Kecil: Jika menganggap ritual atau jimat tersebut sebagai perantara penolak bala, padahal Allah tidak pernah menjadikan benda-benda tersebut sebagai sebab keselamatan.
- Syirik Besar: Jika muncul keyakinan bahwa kekuatan gaib, benda pusaka, atau makhluk halus memiliki kekuatan mandiri untuk melindungi manusia dari mara bahaya di bulan tersebut.
Hakikat Sebenarnya: Muharram Adalah Bulan Mulia
Alih-alih menjadi bulan yang menakutkan, Islam menempatkan Muharram sebagai salah satu dari empat Asyhurul Hurum (bulan-bulan haram/suci) yang sangat dihormati. Allah SWT berfirman:
"...di antaranya empat bulan suci. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu..." (QS. At-Taubah: 36)
Di bulan ini, umat Islam justru dilarang keras berbuat zalim dan maksiat, serta dianjurkan untuk memperbanyak amalan saleh, khususnya puasa sunnah Asyura pada tanggal 10 Muharram.
Kesimpulan
Takut berlebihan pada bulan Muharram/Suro dan melakukan ritual non-syariat demi menolak bala adalah bentuk kekeliruan akidah. Seluruh hari dan bulan adalah makhluk ciptaan Allah yang netral; nasib baik atau buruk ditentukan oleh takdir Allah dan perbuatan manusia itu sendiri, bukan oleh nama bulan. Mari bersihkan iman dari khurafat dan penuhi bulan mulia ini dengan ibadah yang lurus.
Dedi Saputra - Ruqyah QHI Klaten
Komentar
Posting Komentar