KHUTBAH JUMAT: MEMBENTENGI IMAN PEMUDA AKHIR ZAMAN
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Mari kita tingkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar benar takwa. Ketahuilah bahwa dunia ini adalah negeri ujian. Allah sengaja menguji hamba Nya untuk melihat siapa yang benar benar jujur imannya dan siapa yang berdusta.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Jika kita merasa ujian hidup kita hari ini berat, maka ingatlah bahwa manusia yang paling berat ujiannya di muka bumi ini adalah para Nabi dan Rasul. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ
“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian yang seumpama mereka dan yang seumpama mereka.” (Hadits Riwayat Tirmidzi)
Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau diuji menghadapi raja yang zalim hingga puncaknya beliau dilemparkan ke dalam kobaran api yang sangat besar. Namun, karena keteguhan imannya, Allah menyelamatkannya dan menjadikan api itu dingin.
Renungkan pula kisah Nabi Ayyub ‘alaihis salam. Beliau diuji dengan penyakit kulit yang parah selama belasan tahun, hartanya habis, dan seluruh anak anaknya meninggal dunia dalam waktu singkat. Namun, tidak satu kali pun beliau mengeluh atau goyah keimanannya kepada Allah. Beliau tetap bersabar menghadapi ketetapan Nya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Ujian keimanan yang dahsyat ini tidak hanya berhenti pada para Nabi. Sunnatullah ini juga berlaku kepada orang orang saleh pengikut para nabi. Salah satu kisah paling masyhur tentang ujian iman generasi muda adalah kisah Pemuda Ashabul Ukhdud yang diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Al Buruj ayat 4 sampai 8 sebagai dalil nyata kezaliman para penguasa durjana:
قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ (٤) النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ (٥) إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ (٦) وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ (٧) وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (٨)
“Binasa dan terlaknatlah orang orang yang membuat parit. Yang berapi yang mempunyai kayu bakar. Ketika mereka duduk di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang orang mukmin itu melainkan karena orang orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Al-Qur'an Surah Al Buruj ayat 4 sampai 8)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ayat ini menceritakan akhir tragic dari keteguhan seorang pemuda mukmin dan para pengikutnya. Kisah ini bermula dari seorang pemuda cerdas yang belajar iman secara sembunyi sembunyi dari seorang rahib ahli tauhid. Melalui pemuda ini, Allah menunjukkan banyak mukjizat dan karamah, termasuk menyembuhkan orang buta dan berpenyakit kusta, asalkan mereka mau beriman kepada Allah.
Kabar keimanan ini membuat raja yang zalim murka. Sang pemuda ditangkap dan dipaksa murtad. Berkali kali ia hendak dibunuh, mulai dari dilempar dari puncak gunung hingga ditenggelamkan ke tengah lautan, namun Allah selalu menyelamatkannya berkat doa setianya.
Hingga akhirnya, pemuda tersebut mengorbankan nyawanya demi dakwah. Ia berkata kepada sang raja, "Engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali engkau mengumpulkan seluruh rakyat, lalu panahlah aku dengan mengucapkan: 'Bismillah, Rabbil ghulam' yang artinya dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini." Raja mengikutinya, dan ketika anak panah menancap di pelipis sang pemuda, ia wafat seketika. Namun, menyaksikan keteguhan itu, ribuan rakyat yang hadir berteriak serentak: "Kami beriman kepada Tuhannya pemuda ini! Kami beriman kepada Tuhannya pemuda ini!"
Demi memadamkan api tauhid yang baru menyala, raja yang murka memerintahkan tentaranya menggali parit raksasa atau Al Ukhdud dan menyalakan api yang berkobar dahsyat di dalamnya. Siapa saja yang enggan kembali menyembah raja, dilempar hidup hidup ke dalam api tersebut hingga dibakar habis. Di sinilah momen mengharukan terjadi, ketika seorang ibu yang menggendong bayinya sempat ragu untuk melompat, namun sang bayi dengan kuasa Allah berbicara: "Wahai ibuku, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran."
Hadirin yang berbahagia,
Mengngapa Allah mengabadikan dalil ini kepada kita?
Tujuannya adalah agar kita sadar bahwa iman itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Ujian keimanan kita hari ini bukan lagi dibakar di dalam parit api secara fisik. Ujian kita berbentuk fitnah syahwat, pergaulan bebas, maraknya judi online, serta godaan mencari harta dari jalan yang haram.
Tujuannya adalah agar kita sadar bahwa iman itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Ujian keimanan kita hari ini bukan lagi dibakar di dalam parit api secara fisik. Ujian kita berbentuk fitnah syahwat, pergaulan bebas, maraknya judi online, serta godaan mencari harta dari jalan yang haram.
Menolak ajakan maksiat dari teman sebaya dan tetap konsisten menjaga batas batas syariat adalah bentuk parit api modern yang harus kita lalui dengan penuh kesabaran. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menjaga keimanan kita, anak anak kita, dan seluruh generasi muda muslim hingga akhir hayat.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اِتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ اْلمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Mari kita konsisten berada di jalan kebenaran. Jangan pernah merasa aman dari hilangnya iman. Selalulah memohon keteguhan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Maha Membolak balikkan hati manusia.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَ شَبَابِ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ شَبَابًا صَالِحِيْنَ، مُتَمَسِّكِيْنَ بِالسُّنَّةِ وَالْقُرْآنِ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إَمَامًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، اِذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Dedi Saputra, CAHTM - Ruqyah QHI Klaten
Komentar
Posting Komentar