Lalat dan Sampah


*Nasehat Raqi"

*Lalat dan Sampah*

Ruqyah syar'iyyah pada intinya adalah tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Sebab, kebanyakan yang ditangani melalui ruqyah adalah masalah yang bersumber dari jiwa, baik karena gangguan jin maupun akibat keburukan jiwa itu sendiri.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ "Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 151)

Seorang peruqyah pada hakikatnya sedang mengikuti tugas para rasul, dan salah satu tugas utama mereka adalah menyucikan jiwa. Dengan demikian, peruqyah bukanlah ghost buster (pemburu hantu). Allah menegaskan bahwa segala musibah yang menimpa manusia, penyebab utamanya adalah dari diri sendiri.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ "Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Asy-Syura: 30)

Oleh karena itu, salah satu tugas peruqyah adalah menyadarkan orang yang terkena gangguan jin atau sihir, bahwa apa yang menimpanya adalah akibat dari dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Sihir dan gangguan jin adalah sebuah akibat, bukan penyebab utama.

Saya, dengan izin Allah, pernah mengalami berbagai jenis sihir yang disebutkan oleh Syaikh Wahid Abdussalam al-Baly, bahkan rasanya seperti sakaratul maut. Saya pernah diruqyah dan juga meruqyah diri sendiri selama berbulan-bulan. Namun, gangguan jin dan sihir itu selalu datang dan pergi silih berganti hingga pertolongan Allah akhirnya tiba.

Pada mulanya, saya sibuk berfikir dan menebak-nebak siapa yang menyihir saya, sehingga banyak menuduh orang lain tanpa dasar. Hingga suatu ketika, saat saya mulai membaca karya-karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah, hati saya seakan diingatkan. Saat menjelaskan tafsir Surat Al-A'la, Ibnu Qayyim menyatakan:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ "Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman)." (QS. Al-A'la: 14)

Beliau menjelaskan bahwa hati yang bersih dan suci akan memancarkan cahaya yang dapat membakar jin dan setan di sekitarnya.

Sejak saat itu, saya lebih banyak melakukan muhasabah (introspeksi diri). Segala dosa sepanjang hidup saya seakan diingatkan kembali oleh Allah. Saya pun hanya bisa menangis, terus beristighfar dan bertaubat. Dan yang menakjubkan, Allah pun menyembuhkan saya. Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Sejak peristiwa itu hingga hari ini, dengan izin Allah, saya terus berusaha konsisten untuk selalu bermuhasabah. Ibnu Qayyim rahimahullah berpesan, “Letakkan semua keburukanmu di depan matamu, dan letakkan semua kebaikanmu di belakang punggungmu.”

Penulis buku Lalat dan Sampah, Ustadz Muhammad Nadhif Khalyani dan tim RLC (Ruqyah Learning Center), mengingatkan saya akan sebuah perumpamaan yang tepat: Jin, setan, dan sihir itu ibarat lalat. Selama ada sampah, lalat pasti akan datang. Anda bisa menyemprotnya dengan pembunuh serangga hingga lalat itu mati, tetapi lalat-lalat baru pasti akan datang lagi. Satu-satunya solusi agar lalat tidak datang kembali adalah membersihkan dan membuang sampahnya.

Jika kita terkena gangguan jin, itu pertanda ada ‘sampah’ di hati kita. Sampah-sampah itu adalah dosa-dosa pada berbagai level; mulai dari syirik kecil (seperti riya', ujub, sum'ah), takabbur, dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, kesia-siaan, hingga kurang bersyukur.

Oleh sebab itu, tidak selayaknya seorang peruqyah berperan sebagai Ghost Buster yang hanya fokus memburu jin. Memburu jin sangat melelahkan, sementara mereka telah bersumpah untuk terus mengganggu anak Adam.

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ . ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ "(Iblis) menjawad, 'Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.'" (QS. Al-A'raf: 16-17)

Menyadari bahwa kita dikepung setan sepanjang hidup, kita harus berusaha menjaga diri dan orang yang kita ruqyah. Caranya adalah dengan tazkiyatun nafs melalui muhasabah, bertaubat, bersyukur, dan ikhlas. Selain itu, juga dengan memperbaiki tauhid, ibadah, dzikir, dan seluruh amal harian kita agar selaras dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Wallahu a'lam bish-shawab.

✍️Ustadz Dwi Apriyanto (Peruqyah Senior)
⌨️Abu Huna (Editor Buku Lalat dan Sampah-Mengungkap Rahasia Mengapa Tak Kunjung Sembuh)

Republish: Ruqyah QHI Klaten

Konsultasi:

Alamat Terapi: 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERAPI PROMIL (Program Kehamilan) Rumah Sehat Holistik Asy Syifa Klaten

Kunjungan dari PUSKESMAS NGAWEN - KLATEN di Rumah Sehat Holistik Asy Syifa Klaten (Bekam Holistik Klaten)

RAHASIA 'AIN DAN HASAD